SHARE

primaradio.co.id – Pakar sanitasi perkotaan ITS menyebut sebanyak 16.000 warga Surabaya belum memiliki jamban yang benar. Jamban yang benar itu adalah jamban yang memiliki septitank agar tidak mencemari sumber air tanah di sekelilingnya.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Lingkungan, Permukiman, dan Infrastruktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Agus Slamet mengatakan bahwa kondisi tersebut karena masih banyaknya pemukiman yang kumuh. Sehingga warga sulit menyediakan jamban yang lengkap dengan septitank dan saluran sanitasi yang baik. Untuk mengatasi problem kota tersebut, maka dibutuhkan kerjasama antara Pemkot Surabaya dan partisipasi masyarakat.

Agus juga menambahkan, keberadaan Surabaya belum didukung sarana sanitasi, termasuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal. Terutama di pemukiman. Belum adanya IPAL komunal, membuat Surabaya tertinggal jauh dengan Bandung, Solo, Yogyakarta, semarang dan Medan. Kota-kota besar itu sudah memiliki IPAL komunal, sedangkan Surabaya belum. Keberadaan IPAL komunal, penting karena sanitasi yang bersih membuat Surabaya lebih nyaman. Bukan Cuma saluran air yang bersih, namun juga tidak ada nyamuk. Terlebih sanitasi yang ada tertutup dan tersambung dengan IPAL komunal. (zum/nji)