SHARE

primaradio.co.id – Harta terbesar justru ada di hati yang tidak terikat oleh apa pun!

Sebagai pembicara publik, saya mengenal banyak kalangan mulai kalangan menengah ke bawah sampai menengah ke atas. Di kalangan menengah ke atas, di puncak piramida yang beruntung menikmati kue ekonomi terbesar, bertengger orang-orang superkaya yang beberapa saya kenal. Dari interaksi bertahun-tahun dengan mereka saya mengamati 5 perilaku mereka yang oleh orang kebanyakan, termasuk saya, bisa membuat kita geleng-geleng kepala.

Lima perilaku orang-orang superkaya ini membuat kita geleng-geleng kepala. Perilaku mana yang pernah Anda jumpai?

 

1. Membuat uang tidak ada serinya

 “Bagi dia, uang tidak ada serinya!” Pernah dengar ungkapan itu? Julukan itu ditujukan kepada orang yang benar-benar mengalami financial freedom sehingga bukan uang yang menjadi ukuran untuk segala sesuatu yang dia lakukan.

Di dalam perjalanan tur ke luar negeri, tentu ada makanan paket yang kita terima. Kita tidak bisa apa-apa saat dibawa ke sebuah restoran. Suka tidak suka, biasanya kita terima saja. Mengapa? Karena toh kita sudah bayar. Namun, di kalangan superkaya, makan makanan paket bukan suatu keharusan.

Suatu kali, karena tidak suka dengan restoran yang dituju, seorang konglomerat mengajak sebagian peserta untuk makan di tempat lain. Tour leader sudah mengingatkan agar peserta tidak berpencar. Alasannya masuk akal karena jadwal itinerary yang padat.

Apa yang dikhawatirkan terjadi. Rombongan eksklusif yang makan di tempat terpisah itu tertinggal pesawat karena tidak bisa berada di bus yang sama dengan rombongan besar lainnya. Saat sebagian peserta panik, konglomerat itu tetap santai.

Dia menelepon seseorang dan berkata, “Tenang, kita susul mereka dengan pesawat carter.” Begitu santai, begitu simple. Uang tidak masalah.

 

2. Membuang barang tanpa berpikir panjang

 “Hai Pak Xavier. Apa kabar? Ini Angel, masih ingat nggak?” Begitu pesan masuk di WA saya. Rasanya sudah bertahun-tahun saya tidak kontak dengan Angel. Saya rasa kontaknya pun sudah hilang di handphone saya.

Saat saya tanyakan mengapa baru bisa berkabar, dengan enteng Angel menjawab, “Semua handphone saya saya buang ke sungai!”

Hah? Apa nggak salah dengar? Ternyata dia benar-benar membuang handphone-nya begitu saja lengkap dengan SIM card-nya. “Ketika saya urus ke provider-nya, nomor Pak Xavier masih ada,” ujarnya ringan.

Barulah saat kami bertemu di sebuah kafe di hotel berbintang, dia menceritakan semuanya. Angel tidak ingin bergaul kembali dengan teman-temannya yang membuatnya tidak bisa lepas dari kecanduan narkoba. “Sekarang saya bisa fokus untuk mengurus diri sendiri dan makin dekat dengan Tuhan,” ujarnya dengan wajah bersih seperti malaikat.

 

3. Pergi ke mana saja tanpa membawa apa-apa

Seorang sahabat saya, Vela, bisa pergi ke mana saja tanpa membawa apa-apa.

Saya mau jalan-jalan ke China. Pak Xavier mau ikut?” tanya gadis lajang ini santai. Sesantai kuncir rambutnya yang ditiup angin lembut dari AC di belakangnya.

“Kapan?” tanya saya basa-basi karena jelas saya tidak bisa ikut.

“Besok,” ujarnya tanpa rasa bersalah karena menawari saat on due time alias mepet.

Baginya, berangkat kapan pun tinggal go“Saya belum beres-beres juga, kok. Paling bawa satu tas kecil sudah,” ujarnya.

Vela punya kebiasan yang membuat kita geleng-geleng kepala. Jika sedang jenuh dan ingin pergi, dia bisa cabut begitu saja tanpa berpikir panjang. Itulah the power of credit cards. Di moneyless era ini, dia benar-benar mengandalkan kartu-kartu plastik untuk membayar semua urusannya. Hotel tinggal bayar. Baju tinggal beli.

“Saat pulang ke Indonesia, koper saya malah beranak,” ujarnya ngakak.

4. Membeli barang tanpa berpikir ulang

Suatu malam saya sedang menikmati fine dining dengan seorang pengusaha di Jakarta. Kami mengobrol ke sana kemari karena sudah lama tidak bertemu. Ketika membicarakan tentang sebuah negara, tiba-tiba pengusaha di bidang properti ini bertanya, “Pak Xavier masih sering ke sana?”

“Tidak,” jawab saya.

Next time kalau ke sana lagi, tinggal saja di apartemen saya,” ujarnya.

Karena saya tahu dia senang mengoleksi apartemen dan rumah mewah di luar negeri, saya bertanya, “Ada berapa unit yang Bapak beli?”

“Satu tower,” jawabnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Bagi saya yang harus berpikir panjang dan berulang-ulang serta menghitung uang untuk bahkan mencicil satu unit apartemen ukuran kecil saja, pernyataannya itu terasa ‘meledak’ di telinga.

Pada kesempatan lain, seorang ibu menghubungi saya. “Tolong doakan, Pak Xavier. Suami sedang negosiasi untuk membeli sebuah rumah di Amerika,” begitu pesannya. Saat saya tanya lebih lanjut tentang lokasinya, saya berkata kepada anak saya, “Ibu ini luar biasa. Kamu tahu rumah yang dibeli ini tetanggaan sama konglomerat Amerika.” Saya dengar belakangan, rumah itu jadi terbeli.

“Untuk investasi, Pak Xavier,” ujarnya tanpa ada nada kesombongan sama sekali.

 

5. Mengejar kesembuhan tanpa khawatir berapa pun harga yang harus dibayar

Seorang bapak sedang sakit di sebuah rumah sakit di luar negeri. Setelah diperiksa, dokter berkata, “Tolong diusahakan agar besok bisa dibawa ke Singapura. Peralatan mereka lebih lengkap daripada yang di sini.”

“Mengapa tidak malam ini juga, Dok?” ujar adiknya.

“Tidak ada penerbangan malam ini,” sahut dokternya.

“Ah, tidak masalah, Dok. Saya bisa mengusahakannya,” jawab pengusaha di bidang kimia itu lagi.

Tanpa menunggu hari esok, pasien itu diterbangkan malam itu juga. Kok bisa? Bisa saja. Dia punya pesawat jet pribadi. Kalaupun tidak, biaya carter pesawat tidak jadi masalah baginya.

 

Kemerdekaan finansial yang sebenarnya

Saat menyaksikan bagaimana para superkaya itu menghabiskan atau menghamburkan uangnya dengan begitu mudah, apakah mereka benar-benar mengalami financial freedom? Belum tentu. Bagi saya, the real financial freedom adalah seperti kisah yang pernah saya baca.

Seorang rohaniwan sedang berpergian dengan seorang pengusaha. Saat makan siang, rohaniwan itu membuka bekal makannya yang sederhana. Tanpa sadar, sebuah permata besar jatuh. Usahawan itu kaget. Rohaniwan berpakaian sederhana itu ternyata memiliki permata yang harganya selangit.

“Guru. Boleh tidak saya minta permata itu?” tanyanya.

Tanpa berpikir panjang, rohaniwan itu menyerahkan permata berharga itu begitu saja. Dengan gembira, usahawan itu pergi sambil berpikir betapa bodohnya rohaniwan itu.

Berbulan-bulan kemudian, dia kembali mencari rohaniwan itu. “Lho, kok kembali?” tanya rohaniwan itu.

“Sejak menerima permata ini saya tidak bisa tidur. Guru kok begitu gampang menyerahkan pertama yang sangat mahal itu kepada saya,” jawab usahawan itu. “Ini saya kembalikan permata guru. Saya mau meminta yang lebih berharga dari pertama ini.”

“Apa yang kauminta?”

“Hati yang begitu ikhlas sehingga tidak terikat oleh apa pun di dunia ini!”

 

Harta yang terbesar ternyata justru ada di hati yang tidak terikat oleh apa pun!