SHARE
Foto: National Geographic

primaradio.co.id – Ahli fisika kondang yang juga peraih Nobel, Stephen Hawking, meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kabar meninggalnya Hawking muncul bertepatan dengan “Pi Day”, hari peringatan tahunan untuk konstanta pi (Π)–salah satu lambang di bidang matematika– pada Rabu ini, 14 Maret, yang juga dirayakan sebagai Google Doodle.

Kabar kematian ilmuwan hebat itu disampaikan keluarganya, tanpa menyertakan banyak detail. Mereka tak menyertakan waktu kematian atau penyebab kematian. “Kami sangat sedih bahwa ayah tercinta kami meninggal hari ini,” begitu pernyataan dari keluarga Hawking, yang tinggal di Inggris.

Hawking lahir pada 8 Januari 1942 di Oxford, Inggris. Sepanjang hidupnya, ia menulis banyak buku berpengaruh termasuk “A Brief History of Time”.

Pada usia 22 tahun, pada 1962, ia didiagnosis mengalami penyakit sarap langka, yang membuatnya lumpuh sehingga harus tarpaku di kursi roda. Ia juga tidak bisa berbicara kecuali melalui synthesizer suara.

Dalam kondisi fisik seperti itu, ia masih terus melahirkan karya-karya hebat. Pandangan dan temuannya selalu mendapat penghargaan dan pengakuan tinggi dari seluruh dunia, terutama soal lubang hitam.

Keluarganya mengatakan bahwa Hawking meninggal dengan damai di rumahnya di dekat Universitas Cambridge, tempat dia melakukan banyak memecahkan masalah soal lubang hitam.

Hawking meninggalkan tiga anak, yakni Lucy, Robert, dan Tim. Dalam pernyataannya ketiga orang itu mengatakan: “Dia adalah ilmuwan hebat dan pria luar biasa yang pekerjaannya akan terus berjalan selama bertahun-tahun.”

Mereka melanjutkan, “Keberanian dan ketekunannya, dengan kecemerlangan dan humornya, mengilhami orang-orang di seluruh dunia. Dia pernah berkata, ‘Tidak akan ada artinya alam semesta jika tidak ada tempat bagi orang-orang yang Anda cintai.’ Kami akan merindukan dia selamanya.” (bee)

Sumber: Tempo