SHARE

primaradio.co.id – Utang luar negeri (ULN) diharapkan bisa terus ditingkatkan manfaatnya sebagai sumber dana berkesinambungan bagi pembangunan ekonomi, baik regional maupun nasional. Bank Indonesia (BI) terus memberikan sosialisasi ke berbagai pihak, termasuk korporasi yang bersinggungan dengan utang luar negeri.

Menurut Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Syarifuddin Bassara, mengatakan bahwa sosialisasi ini dilakukan berkaitan dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 17/23/PBI/2015 tentang Perubahan Atas PBI No 16/10/PBI/2014 tentang Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri. Perubahan ketentuan ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas mekanisme pemantauan DULN dan tingkat kepatuhan Debitur ULN terhadap kewajiban penerimaan DULN melalui bank devisa.

Syarufuddin juga menambahkan, pelaporan RULN dan DULN menjadi penting karena merupakan buffer atau penyangga dalam menjaga kesinambungan perekonomian nasional dan berfungsi sebagai sumber data yang bersifat forward-looking untuk mewujudkan iklim perekonomian yang kondusif bagi dunia usaha Indonesia.

Adapun jenis-jenis ULN yang wajib dilaporkan adalah DULN berdasarkan perjanjian kredit (loan agreement) dalam bentuk nonrevolving, ULN berdasarkan surat utang (debt securities), dan DULN yang berasal dari selisih antara nilai ULN baru yang mencakup ULN berdasarkan perjanjian kredit dan surat utang dengan tujuan refinancing terhadap nilai ULN lama yang termasuk didalamnya ULN berdasarkan perjanjian kredit, surat utang dan utang dalam bentuk barang.(zum/nji)