SHARE

primaradio.co.id – HOAX adalah sebuah kata yang bermakna miring, negatif, dan menimbulkan situasi chaos. Tema ini turut populer seiring dengan digunakannya sebuah ruang komunikasi hipersensitif yang bernama media sosial. Di dalam media sosial, di balik benteng identitas semu, semua hasrat berkomunikasi ambyar dan dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja. Di ruang inilah segala bentuk bujuk rayu dan tipu daya membombardir setiap detik melalui perhitungan algoritma yang rumit. Informasi berkeliaran bebas tanpa dasar, tanpa arah, dan bahkan tanpa logika akal sehat. Konteks menjadi nisbi dalam realitas siber dimana antara sebuah dusun di Lamongan dan New York dapat terhubung secara real time. Dimana kesadaran menjadi terhubung dan bersifat omnipresence. Semua orang bisa menjadi tuhan yang mampu menciptakan realitas subyektifnya sendiri.

Dalam Bahasa Indonesia sendiri, hoax bermakna olok-olok atau cerita bohong. Dimana dalam realitas media sosial yang bertumpu pada imaji-imaji buatan makin mendapatkan ruang eksistensi yang banal, liar, dan tuna etika. Di sinilah sinisme, praktik pemelintiran fakta, dan praktik penyuntingan gambar dan teks untuk tujuan tertentu tiap hari telah menjadi lazim.

Fenomena ini mengantarkan masyarakat yang hidup di abad reproduksi digital seperti saat ini menjadi masyarakat reaksioner, yaitu masyarakat yang larut dan hanyut dalam gelombang tipu daya namun mudah tersulut atasnya. Masyarakat atau Negara lantas mempertontonkan logika bawah sadarnya yang berpotensi destruktif terhadap apapun: menegasikan liyan, atau malah memberangus liyan yang dianggap berseberangan.

Kehadiran hoax sebagai konten media baru seperti internet pada sisi lain juga menerbitkan isu mengenai reproduksi visual dan tekstual yang saling tumpang tindih dan dipraktikan untuk kepentingan tertentu. Reproduksi terus-menerus akan visual dan tekstual inilah yang akhirnya meleburkan batas antara yang nyata dan palsu, antara yang fakta dan fiksi. Jagat berfikir kita kemudian dipenuhi oleh citra dan imaji yang bersifat imitatif dan tak menyulut kesadaran kritisreflektif. Pada titik yang paling jauh, kita bisa saja menuduh bahwa hoax adalah anak kandung dari logika masyarakat yang hidup di galaksi cybermedia dengan segala implikasi sosialnya.

Fenomena sosial inilah yang coba diangkat sebagai titik eksplorasi seni yang akan dihadirkan dalam Biennale Jatim 7. Setiap karya yang tampil diharapkan merespon setidaknya: (a) konsumsi informasi yang membludak (b) di era reproduksi digital yang memungkinkan (c) leburnya batas antara yang fakta dan fiksi, antara yang nyata dan yang virtual.

Berikut 27 seniman Biennale Jatim 7 “World is a HOAX”:

Agan Harahap, Aji Prasetyo, Anton Ismael, Anwari, Beny Wicaksono, Cahyo Wulan Prayogo, Dukan Wahyudi, Dwi Januartanto, Fajar Riyanto, Farhanaz Rupaidha, Filastine, Gelar Soemantri, ICFAM, Imam Sucahyo, Indra P “impoe”, Jopram, Julian ‘Togar’ Abraham, Nalta 097, Mufid Zulfatoni, Reza Zefanya, Rifandi Septian Nugroho, Suvi Wahyudianto, The Youngrrr, Tiada Ruang, Timoteus Anggawan Kusno, Toyol Dolanan Nuklir, WAFT-LAB. (*)