SHARE

primaradio.co.id – Maraknya penyalahgunaan narkoba di Idonesia setiap tahun justru mengalami peningkatan. Hasil penelitian dari BNN bekerja sama dengan PUSLITKES Universitas Indonesia memperoleh hasil angka prevalensi penyalahguna di indonesia tahun 2016 adalah 2,2 % atau sekitar 5,6 juta penyalahguna.

Sementara di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk 40.200.000 jiwa, jumlah penyalah guna sebanyak 884.400 orang (2,2%), ini merupakan peringkat ke-2 nasional jumlah penyalahguna terbanyak setelah provinsi jawa barat. Dari angka prevalensi tersebut prosentase remaja (pelajar) dalam penyalahgunaan narkoba sebesar 27,32 %.

Menyikapi hal ini, BNNP Jawa Timur secara berkelanjutan terus melakukan upaya untuk mencegah peredaran narkoba, khususnya dengan melakukan sosialisasi edukasi bahaya dan dampak penggunaan narkoba di kalanagan masyarakat.

Tidak hanya itu, BNNP Jawa Timur dalam upaya menekan laju pertumbuhan penyalah gunaan maupun peredaran gelap narkoba di Jawa Timur juga melakukan (i)Upaya represif, yakni dengan melakukan ungkap kasus. Dalam kurun waktu januari hingga oktober 2017 telah berhasil mengungkap 25 kasus dengan tersangka sejumlah 44 orang, 39 hidup, 5 meninggal dunia dan sitaan barang bukti ganja (13.101,25 gram), shabu (12.585,33 gram), ekstasi (100 butir), pil warna merah muda (100 butir) dan pil warna ungu (201 butir). Selain itu, untuk membuat efek jera kepada bandar maupun pengedar dengan menembak mati 5 orang pengedar.

(ii) Upaya preventif dengan melakukan pencegahan (terdiri dari advokasi, asistensi dan diseminasi) serta pemberdayaan masyarakat kepada 4 lingkungan yaitu lingkungan pemerintah, lingkungan swasta , lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat.

Kepala Seksi Pencegahan BNNP Jatim, Satriyono menjelaskan bahwa narkoba tidak mengenal usia dan status sosial. Parahnya lagi, saat ini masyarakat justru menganggap narkoba adalah doping, padahal narkoba dalam golongan satu, seperti Sabu, ekstasi, ganja, heroin, kokain, dan putau jelas dilarang penggunaannya.

Kendati demikian, BNNP Jatim melalui Kepala Seksi Pencegahan BNNP Jatim, Satriyono tidak ingin mindset masyarakat yang menganggap pecandu adalah kriminal dan aib bagi keluarga, justru menghambat penekanan penyalahgunaan narkoba, di Jawa Timur khususnya.

“Pecandu adalah korban, dan orang-orang yang sakit. Pecandu punya hak untuk memperoleh pelayanan hak rehabilitasi,” kata Kepala Seksi Pencegahan BNNP Jatim saat melakukan talkshow di studio Primaradio, Selasa (21/11/2017).

Oleh sebab itu, Satriyono berharap agar pihak keluarga pecandu bisa mendukung rehabilitasi untuk penanganan lebih lanjut bagi pecandu. Satriyono bahkan menegaskan, tidak ada pemungutan biaya dalam proses rehabilitasi yang dilakukan pecandu narkoba.

“Untuk biaya rehabilitasi, kami jamin gratis. Tidak ada biaya sepeser pun,” tambahnya.

Terakhir, BNNP Jatim memberikan imbauan kepada masayarakat agar (i)Jangan takut untuk melaporkan diri ke BNN agar memperoleh layanan rehabilitasi. Karena mereka yang mau dengan sukarela dan penuh kesadaran ingin keluar dari jeratan narkoba tidak akan kena sanksi hukum.

(ii)Bagi orangtua jika anaknya menjadi pecandu segera laporkan. Jangan di tutup tutupi, karena akan semakin memperparah keadaan. Seluruh masyarakat jawa timur agar perduli terhadap lingkungannya dan mempunyai komitmen yang kuat untuk menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba sekarang juga.

(iii)BNNP Jatim akan selalu menindak tegas segala bentuk peredaran gelap narkoba di wilayah Jawa Timur. (joe)