SHARE
Kepala Pusat Karantina Kepatuhan, Kerja Sama dan Informasi Perkarantinaan, Badan Karantina Pertanian Arifin Tasrif (kiri) dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Jawa Timur I Rahmat Subagio (kanan) menunjukkan buah impor ilegal berupa buah pir dan jeruk dari Tiongkok yang disita di PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/1). Pekan ini, Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya gagalkan impor buah ilegal dari Tiongkok dan Korea Selatan sebanyak total 85 ton. Impor buah itu ilegal karena tidak sesuai dengan dokumen. Kompas/Herpin Dewanto Putro (DEN) 29 Januari 2016

primaradio.co.id – Menteri Pertanian RI, A.Amran Sulaiman mengecek kondisi buah sitaan Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya (BBKS) bersama 29 Anggota Komisi IV DPR RI di Terminal Petikemas Surabaya pada (4/3/2016).

Sejumlah buah terlihat tidak segar dan berwarna kehitaman. Diantaranya, buah pear, apel dan jeruk ini disusun horizontal. Letak buah pear di bagian luar, di tengahnya terdapat tumpukan buah apel dan jeruk.

Menurut Kepala Bidang Tumbuhan Balai Besar Karantina Surabaya, Imam Djajadi, sitaan buah-buah tersebut merupakan
penyelundupan berkedok sistem oplos. Sebelumnya diketahui dokumen impor buah ini hanya buah Pear yang dikirim. Pear lebih dipermudah karena urusan di Kepabeaan, dan harganya lebih murah. Tiga jenis buah yang dikirim dari Tiongkok ini tidak disertai surat jaminan kesehatan dari negeri asal. Hal ini berpotensi membawa hama penyakit, dan mendatangkan lalat buah yang sangat menyukai buah, khususnya buah jeruk sebagai media perkembang biakannya.

Imam juga menambahkan, keamanan konsumsi buah apabila tidak disertai sertifikat akan berakibat pada kesehatan konsumen. Pada tahun 2012, spesies lalat buah yang berasal dari negeri Tiongkok adalah bactrocera tsuneonis/ japanese orange fly/cytrus fruit fly, merupakan organisme pengganggu tumbuhan yang belum terdapat di Indonesia, sehingga diperlukan kewaspadaan yang tinggi. Berkaca pula pada pengalaman di Jepang yang pernah terkena wabah penyakit lalat jenis ini, berakibat gagal panen hingga mencapai 50 persen. Apabila dibiarkan, telur larva lalat buah yang terbawa didalam buah jeruk ilegal ini menjangkit tanaman jeruk di dalam negeri. (Zum/Nji)