SHARE

primaradio.co.id – Rencana Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya mencanangkan kawasan Tunjungan sebagai kawasan cagar budaya dinilai masih belum maksimal. Terutama kurangnya koordinasi antara tim reklame dari Pemkot Surabaya dengan Disbudpar. Hal ini terlihat dari pemasangan reklame di sejumlah area kawasan Tunjungan.

Menurut anggota Komisi C DPRD Surabaya, Vinsensius Awey mengatakan bahwa Disbudpar melakukan revitalisasi kawasan Tunjungan dengan meminta para pemilik persil untuk membuka fasad (bagian depan bangunan) agar tampak keaslian arsitektur bangunan. Di sisi lain, Pemkot Surabaya sebagai tim reklame Pemkot memberikan izin berdirinya papan reklame sehingga menutup fasad salah satu bangunan disana. Hal ini akan berdampak pemilik persil lain akan menolak untuk membuka fasad miliknya.

Awey juga menambahkan, Disbudpar sebaiknya masuk dalam tim reklame yang dipimpin DCKTR. Dengan demikian ada koordinasi satu sama lainnya dalam mengeluarkan izin pemasangan reklame pada kawasan lokasi bangunan cagar budaya.(Zum/Nji)