SHARE

primaradio.co.id – Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Surabaya. Pagi hari.

Saya sedang mengantar anak saya ke sekolah. Saya bawa koran nasional dari rumah yang belum sempat saya baca sebagai bekal. Headline-nya membahas megakorupsi pengadaan e-KTP. Kasus ini sudah lama – beberapa tahun lalu – tapi puncaknya baru hari-hari ini. Pertanyaan publik – termasuk saya – beranikah KPK membongkar semua jaringan yang melibatkan elit politik, penguasa, swasta?

Ketika merenungkan hal ini, saya mencoba melakukan ziarah batin ke dalam diri sendiri.
Apa yang salah dengan kita?
Apa yang bisa kita perbaiki?
Nah, di dalam perjalanan ke sekolah anak saya yang memakan waktu hampir satu jam, saya menemukan beberapa poin untuk saya jadikan koreksi diri. Paling tidak ada 3 pertarungan saat ini yang saya singkat sebagai ‘KTP’:

1. KPK vs Koruptor

Setiap kali KPK mencoba membongkar kasus besar seperti penyalahgunaan dana BLBI maupun pengadaan simulator SIM, selalu terjadi perlawanan yang keras dari orang-orang yang merasa tersudut dan pelemahan KPK sekaligus. Meskipun KPK bertarung sampai ‘berkeringat dan berdarah-darah’, toh pimpinan puncaknya ‘dilengserkan’. Apakah peristiwa ini akan terulang kembali? Saya harap tidak!

2. Transparansi vs Budaya Tutup Malu dan Tutup Mulut

Rakyat menuntut keterbukaan dalam kasus megakorupsi semacam ini, tetapi rasa malu pejabat publik membuat gerakan tutup mulut. Mereka bukan hanya menutupi dosanya sendiri, tetapi juga para koleganya yang ‘kecipratan’ hasilnya. Jika korupsinya secara berjamaah, maka saat ketahuan, reaksinya berjamaah pula. Mereka ramai-ramai mengadakan gerakan tutup malu dan gerakan tutup mulut. Akibatnya bisa ditebak. Jika KPK tidak dikawal, kasus-kasus besar ini bakal mental dan akhirnya batal.

Masih adakah whistleblower yang diharapkan bisa mengungkap korupsi raksasa ini sampai ke akar-akarnya?

3. Politikus vs Publik

Bocornya nama-nama tersangka dalam kasus korupsi e-KTP ini – entah isinya benar atau tidak – telah membuat politikus di Senayan kebakaran jenggot. Dari berita yang saya baca, mereka ramai-ramai mengembalikan uang haram itu ke KPK. Jumlahnya ‘hanya’ sekitar 250 milyar. Kok hanya? Iya karena uang pemerintah yang digerogoti ramai-ramai berjumlah dua trilyun lebih! Nah, pertarungan antara politikus dan publik ini bakal berlangsung lama dan seru. Mana yang menang? Who knows?

Apa yang bisa kita perbaiki? Pakai kembali akronim KPK:

1. Keluarga Kita sendiri

Ada orang yang berkata jika kita mencuri satu pensil dari kantor tanpa rasa bersalah, suatu kali kita akan mencuri pensil satu kontainer tanpa rasa berdosa. Peran orangtua sangat vital di sini. Jika posisi kita saat ini adalah orangtua, kita bisa memulainya dengan keluarga kita sendiri. Ketika kita mengembalikan uang kembalian yang kelebihan di depan anak kita, maka sejak dini mereka sudah mendapatkan contoh yang baik.

Bukankah tindakan kecil jauh lebih efektif ketimbang ucapan besar dan banyak?
Kita jagai – dan jika salah, perbaiki – diri kita sendiri dan keluarga sendiri. Jika keluarga demi keluarga sehat, saya percaya, negara kita pun ikut kuat!

2. Pakai Standar Ilahi

Di halaman yang sama dari koran yang saya baca, ada berita lain tentang sidang praperadilan seorang tokoh masyarakat dan mantan pejabat publik. Masing-masing pihak – ‘terdakwa’ maupun ‘pendakwa’ – sama-sama menggunakan kebenaran [baca: hukum] dari kacamata mereka sendiri. Yang satu ingin menghukum, yang lain ingin membela. Wajar! Namun, jika masing-masing memakai ‘kacamata’ mereka sendiri, ‘perangnya’ bakal lama. Lalu, baiknya bagaimana?
Hukum Tuhan memang seharusnya di atas hukum buatan manusia. Namun, hukum ‘Tuhan’ siapa?

Di hadapan kita sudah dipertontonkan jika masing-masing pihak memakai ‘penafsirannya sendiri’ tentang hukum Tuhan, masalah justru semakin meruncing dan melebar ke mana-mana. Akibatnya, orang bisa menjadi hakim bagi sesamanya dan dunia jadi semakin bengis dan beringas!

Lalu, gimana dong?
Sang Khalik bersabda, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.”

3. Kesadaran Diri

Warisan adiluhung kita sebagai bangsa Indonesia perlu kita simak. Apa itu? Eling lan waspada!
Pertama, kita harus ingat dari mana kita berasal [sangkaning dumadi] dan ke mana kita mau pergi [paraning dumadi]. Jika kita ingat bahwa kita ada dan lahir di dunia ini lewat papa dan mama atas perkenan Tuhan, kita wajib menghormati orangtua, guru dan siapa pun yang memimpin kita, terutama Pemimpin Tertinggi yang berhak mendapat segala hormat, pujian dan kemuliaan: Tuhan. Jika hal ini kita lakukan, kita akan lebih mengawasi diri kita sendiri – dari perbuatan jahat seperti korupsi – ketimbang terus-menerus diawasi dan malah kabur saat ada kesempatan. Kata kuncinya: introspeksi atau mawas diri.

Dengan eling sangkan paraning dumadi, kita akan terus-menerus menguji diri kita sendiri ketimbang menguji orang lain.

Sang Hakim Agung bertanya tajam, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Kedua, kita perlu waspada terhadap apa saja yang bisa menjauhkan kita dari kebenaran ilahi dan mencelakakan diri sendiri. Kata kuncinya: rasa syukur dan kepuasan diri. Sang Pemilik Hidup berkata, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.”

Kita juga perlu waspada terhadap kekuasaan. John Dalberg-Acton pernah berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kebenarannya bergaung sampai hari ini! Ketika prajurit bertanya kepada Yohanes apa yang perlu mereka kerjakan dalam menyangga tugas sebagai abdi negara, murid Guru Agung ini berkata, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Superb!

Intinya? Jangan tergoda untuk hidup di atas standar kita dengan cara-cara yang melanggar standar Tuhan.

Dengarkan nasihat dari Sang Pemelihara Kehidupan,
“Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.”

Jika kita diberi amanah sebagai pejabat publik, nilai adiluhung lain yang perlu kita renungkan di otak dan resapkan di hati adalah ini: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” [di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan].

Jangan sampai nafsu untuk menjadi kaya secara instan membuat kita – meminjam istilah Herman Andreij Adriansyah – membengkokkan kalimat itu menjadi: ”Ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya nggawe rekasa, tutwuri nyilakani” [di depan senyampang berkuasa, di tengah bikin susah, di belakang membuat celaka].

Setuju!