SHARE

primaradio.co.id – Temuan uang palsu di Jawa timur menurun, Gerakan Nasional Non Tunai jadi salah satu faktor penurunan.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Yudi Harimukti menegaskan penemuan uang palsu di tahun 2017 menurun jika dibandingkan tahun 2016. Menurut Yudi, penurunan disebabkan oleh upaya yang dilakukan Bank Indonesia dan penegak hukum yang telah melakukan penindakan dan penyidikan kepada para pelaku.

Namun selain itu, keberhasilan Gerakan Nasional Non Tunai atau GNNT juga menjadi salah satu pemicu penurunan.

“Tahun 2016 itu kita catat, di jawa timur total terdapat 31.382 lembar. Sampai dengan tahun ini baru 27.652 lembar. Kita dapat dari laporan perbankan sebanyak 74.939 lembar atau 90,4%. laporan masyarakat mulai dari loket dan kas Bank Indonesia 995 lembar atau 1,2%, dan dari hasil dari pengolahan uang oleh teman-teman kasir di Bank Indonesia sebanyak 6.963 lembar atau 8,4%. Jadi mengalami penurunan,” kata Yudi.

“GNNT memang meningkat. Bisa jadi juga itu merupakan salah satu keberhasilan kita untuk mendorong GNNT . Tapi di sisi lain juga saya rasa upaya kita bersama Bank Indonesia dan para penegak hukum, Polda, Polri, Kejaksaan Tinggi, dan Pengadilan Tinggi yang telah memberikan hukuman yang optimal kepada pelaku yang sudah tertangkap,” tandasnya.

Yudi juga menambahkan, 80% pecahan uang palsu yang beredar di masyarakat adalah nominal 50 ribu dan 100 ribu Rupiah. Yudi mengatakan, ke depannya sosialisasi di masyarakat akan terus dilakukan, sehingga masyarakat dapat teredukasi dengan baik dan lebih cepat mengenali uang palsu. (ria/joe)