SHARE
Tur SHT wisata kuliner cita rasa oriental (Foto: Dok HoS)

primaradio.co.id – Kedatangan pedagang Tionghoa di masa silam memiliki warna tersendiri dalam kerangka sejarah Indonesia. Tidak hanya meramaikan jalur pelayaran Nusantara, jalinan interaksi dengan penduduk lokal juga turut menciptakan peleburan budaya di atas meja makan, berupa aneka rupa panganan dengan jejak oriental di tiap gigitan. Sebut saja bakwan (ote-ote), bakso, nasi goreng, soto, kecap, onde-onde, lontong mie dan banyak kuliner populer lain yang jika digali akar sejarahnya maka akan merujuk ke tradisi Tionghoa.

Sebagai kota multietnik Surabaya layak menjadi tujuan wisata kuliner, karenanya melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) ‘Jajanan dari Seberang: Cita Rasa Oriental’ yang diadakan selama tanggal 19 Desember 2020 – 20 Januari 2021, HoS mengajak trackers untuk mengenali identitas kota Surabaya sebagai melting pot budaya melalui keragaman kuliner yang bertalian erat dengan budaya Tionghoa.

Adapun jadwal tur setiap Sabtu dan Minggu jam 10.00-11.30 WIB. Anda bisa berkeliling menikmati jajanan bercita rasa oriental secara virtual melalui aplikasi zoom. Teknis pendaftaran melalui https://bit.ly/virtualturSHT

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Sejak 2010 SHT telah menyelanggarakan 50 tur tematik dan mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya baik museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik, dan lain sebagainya. Hal tersebut juga menginisiasi Heritage Walk dengan nama ‘Klinong-klinong ning Suroboyo’ yang menjadi pengembangan SHT dengan mengajak Trackers untuk secara langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Terus melestarikan sejarah, seni dan budaya, Surabaya Heritage Track menyelenggarakan program daring berbentuk tur virtual. Program yang sudah diselenggarakan sejak akhir April lalu ini dapat dinikmati oleh masyarakat sebagai alternatif berwisata yang dapat dilakukan dari mana saja melalui gawai. (*)