SHARE

primaradio.co.id – Jika kita menyenangi pekerjaan kita, kita bisa bekerja dengan sukacita seperti saat kita melakukan hobi dan seakan-akan tidak bekerja!

Saya sedang berada di sebuah mal. Karena hari libur, pengunjung cukup banyak. Saat berada di dalam lift yang berjubel, tiba-tiba saya mencium bau menyengat. Belum sempat saya menemukan sumber bau itu, tiba-tiba seorang ibu berpakaian mewah dan menenteng tas mahal menyalak,
“Siapa yang kentut di lift?”
Matanya melotot. Mukanya semerah kepiting rebus.
Tentu saja tidak ada yang mengaku. Gila apa? Hehehe.
Di tengah situasi yang tidak nyaman itu, petugas lift berkata lembut, “Sudahlah, Bu. Ibu kan baru kali ini mencium bau busuk seperti ini. Saya sudah sering mengalaminya!”

Ucapan yang seharusnya membuat saya tertawa geli justru memaksa saya merenung ulang makna ucapannya itu. Sebagai seorang petugas yang menaik-turunkan pengunjung di lift yang dia jaga, tentu saja dia mencium berbagai macam bebauan, mulai dari parfum mahal, bau keringat yang menyengat, sampai bau kentut yang bak telur busuk. Mengapa dia betah bekerja di tempat dan posisi seperti ini? Bisa jadi karena keterpaksaan.
Coba berhenti sejenak dan renungkan kembali:

Apakah Anda betah bekerja di tempat Anda yang sekarang? Apakah Anda merasa bosan, jenuh dan ingin keluar dari tempat kerja yang seperti neraka?

Sebelum Anda mengambil keputusan drastis seperti itu, coba pertimbangkan 3 hal ini saja agar Anda kembali bergairah.

1. Ubah Perabot

Jika Anda bekerja di ruangan sendiri, coba atur kembali posisi Anda duduk atau lakukan perpindahan perabot. Saya mempunyai dua kantor yang berbeda tempat. Karena saya sendirian di ruang kerja, maka saya lebih bebas mengaturnya. Bagaimana kalau ruangan sempit dan perabot terbatas? Pindah atau ubah barang-barang stationery yang ada di atasnya.

Saya tidak terlalu memperhatikan bentuk dan aksesori peralatan kantor saya. Justru anak sayalah yang ‘mendandani’ kantor saya. Misalnya, saat saya berulang tahun, dia membelikan jam digital mungil tembus pandang yang tampak cantik di atas meja kayu saya. Dia yang membawakan saya oleh-oleh tempat pensil dengan diorama pemandangan di luar negeri yang baru dia kunjungi. Dia jugalah yang membuatkan miniatur semua buku saya yang sudah terbit dan menatanya sedemikian rupa sehingga menjadi seperti pertunjukan wayang kulit. Kreatif. Anak saya begitu memahami saya sehingga menjadikan buku sebagai hiasan. Hasil kerajinan tangannya dia taruh di rak buku saya. Berkat kreativitasnya, kantor saya jadi lebih ‘berwarna’.

2. Ubah Cat atau Wallpaper

Cara ini tentu tidak bisa kita lakukan terlalu sering. Kalau terlalu sering, membuat anggaran membengkak. Bagaimana menyiasatinya? Ganti hiasan dinding.

Saya memasang hiasan dinding yang lebih personalized. Di kantor saya yang pertama, saya menaruh hiasan di dinding berupa bagan berpigura emas, sedangkan di kantor saya yang kedua, saya menempelkan foto keluarga persis di belakang tempat duduk saya. Di kantor pertama, saat mata lelah memandang layar laptop, saya alihkan pandangan saya ke pigura di samping kiri saya yang berisi foto keluarga saya. Di kantor kedua, saat saya jenuh bekerja, saya tinggal putar kursi saya – yang memang beroda – ke arah belakang dan memandang foto orang-orang yang saya kasihi. Cukup sejenak saja. Lalu kursi saya putar kembali menghadap laptop.
Jeda sejenak itu cukup menolong untuk membuat saya aktif bekerja kembali.

Jika Anda ‘beruntung’ mendapatkan kantor dengan jendela kaca yang besar dan menghadap viewyang indah, Anda dapat memandang ke kejauhan. Katanya, dengan memandang hijau-hijauan daun maupun rumput, mata jadi lebih sehat.

3. Lakukan Tindakan Kecil, Baik untuk Diri Sendiri maupun kepada Rekan-Rekan Sekantor

Waktu masih menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah bulanan, di saat jenuh bekerja, saya berkeling dari satu meja ke meja redaksi yang lain. Di samping mengecek pekerjaan mereka, saya sempatkan diri untuk sekadar ‘say hello’ atau berbicang ringan seputar pekerjaan dan rumah tangga mereka. Kadang-kadang saya bagikan makanan kecil yang saya bawa dari rumah.

Obrolan santai bukan saja mempererat bonding di antara kami, tetapi juga menyegarkan suasana. Tentu saja, mengobrolnya tidak boleh terlalu lama sehingga malah mengurangi produktivitas. Kalau mau mengobrol lebih lama, saya ajak beberapa redaksi dan wartawan makan di luar.

Bagi saya, uang yang saya keluarkan jadi tidak ada artinya dibanding persahabatan dan persaudaraan di antara kami, sehingga kekeluargaan makin solid.

Jika Anda berkantor sendirian, Anda bisa saja memutar lagu-lagu lembut, bersiul maupun bersenandung. Namun, hal ini tabu dilakukan jika mengganggu rekan sekerja lain. Olahraga ringan juga bisa jadi bahan pertimbangan. Saya pernah melihat kantor seorang direktur yang di dalamnya ada mini golf course yang dia pakai untuk sekadar melemaskan tangan dan pinggangnya.

“Jika kita menyenangi pekerjaan kita, kita bisa bekerja dengan sukacita seperti saat kita melakukan hobi dan seakan-akan tidak bekerja!”

– Xavier Quentin Pranata