SHARE
Pawai ogoh-ogoh di Pura Segara Kenjeran (Akke Andhika)

primaradio.co.id – Sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, kembali diadakan Pawai ogoh-ogoh. Meski bernuansa adat Bali, namun kegiatan seni budaya yang satu ini juga digalakkan di berbagai daerah. Salah satunya Surabaya.

Pawai Ogoh-Ogoh tahun ini kembali diselenggarakan di Pura Segara Komplek TNI-AL Kenjeran.

Ada sekitar 10 Ogoh-Ogoh yang dibuat oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa seperti dari ITS.

Uniknya dalam pawai ogoh-ogoh ini menjadi simbol kebersamaan. Bhinneka Tunggal Ika. Pasalnya selain menampilkan Ogoh-Ogoh, juga ada seni Barongsai dan Reog Ponorogo.

Penonton pun tidak hanya umat Hindu yang melakukan persembahyangan di Pura Segara, namun berbagai kalangan masyarakat sekitar juga turut menyaksikan pawai Ogoh-Ogoh.

Ketut Edi Purnama, salah seorang pengunjung , sekaligus merupakan pembimbing rohani mahasiswa ITS beragama Hindu, memaknai Ogoh-Ogoh sebagai simbol untuk menyerap kekuatan negatif dari diri sendiri, alam dan lainnya.

Oleh sebab itu setelah diarak, Ogoh-Ogoh akan dibakar, dengan harapan ketika besok memasuki tahun baru bisa kembali suci dan bersih.

Sementara itu ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Surabaya I Wayan Surabe mengatakan pawai Ogoh-Ogoh ini memiliki makna sebuah refleksi diri dimana hidup kita harus terkendali. Menekan ego, nafsu, iri hati, dan murka dalam diri kita.

Adapun rute pawai Ogoh-Ogoh, dari Pura Segara melintas beberapa jalan termasuk melintas di Jembatan Suroboyo.

Di salah satu ikon baru Surabaya ini masyarakat dapat menyaksikan pertunjukan kolosal oleh 70 Penari.

Tuntas melintasi Jembatan Suroboyo, rombongan pawai kembali ke Pura Segara untuk melakukan proses pembakaran Ogoh-Ogoh. (bee)