SHARE

primaradio.co.id – Pedagang Foodcourt Penjaringansari saat ini tak dipungut bea apa pun untuk dapat berjualan disana. Hanya saja, diwajibkan membayar retribusi pemanfaatan aset daerah sebesar Rp 2.000 perhari serta biaya operasional yang nominalnya Rp 12.500.

Menurut Ketua Koperasi Bhumi Sembada Sutomo Koesnendar, mengatakan bahwa biaya tersebut digunakan untuk membayar listrik, kebersihan, keamanan, dan pemeliharaan. Selain itu juga untuk honor pemain musik dan pegawai. Meski pengunjung Foodcourt Penjaringansari kini sudah mulai mengalir, namun pengurus koperasi masih memendam ketidaknyamanan. Sebab, pusat makanan itu berada tak jauh dari Lahan Pembuangan Sementara (LSP). Akibatnya, di saat musim hujan aroma sampah tak jarang menyeruak di tengah kenikmatan pengunjung menyantap menu di hadapannya.

Sutomo berharap, pemerintah kota Surabaya segera memindahkan LSP tersebut agar tak mengganggu kenyamanan konsumen. Pasalnya, Foodcourt Penjaringansari yang berada di Kelurahan Penjaringansari Kecamatan Rungkut, Surabaya ini sempat terpuruk sebelum kini jadi jujugan favorit penikmat kuliner Surabaya.

Saat ini, pusat makanan yang menempati area seluas 60×60 meter ini dihuni 18 pedagang di bagian utama bagunan. Dan sebanyak 38 pedagang makanan dan minuman lainnya di luar bangunan utama.(zum/nji)