SHARE
Ilustrasi mainan anak (Foto: www.mainankayu.com)

primaradio.co.id – Perkembangan teknologi semakin menggerus penjualan mainan anak.
Ketua Bidang Mainan Kayu Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) Jawa Timur Winata Riangsaputra menyebut, secara umum sepanjang tahun 2018 penjualan mainan anak menurun hingga 20 persen.

“Salah satu faktornya, adanya permainan anak di gawai yang gratis unduh membuat industri mainan tergerus, baik di dalam maupun luar negeri,” kata Winata kepada wartawan di Surabaya, Senin.

Untuk mengatasi hal itu, kata dia, APMI kini gencar mengembangkan produk mainan yang mengombinasikan antara fisik dan gawai agar tidak tertinggal oleh teknologi yang kian canggih.

“Contoh mainan fisik yang digabung dengan gawai adalah smart numbers yang dapat dimainkan di tablet atau ipad, tapi angka-angkanya dari kayu. Dan Alhamdulillah, trennya lumayan bagus, meski belum menunjukkan pertumbuhan signifikan,” katanya.

Menurut ia, pengembangan permainan seperti itu tidak mudah, sebab masih banyak kendala yang dihadapi, mulai dari minimnya sumber daya manusia Indonesia yang mumpuni di bidang tersebut hingga masalah biaya yang cukup tinggi untuk menciptakan mainan itu.

Kendala lain adalah industri mainan anak saat ini adalah masih derasnya produk mainan impor yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut ia, mayoritas mainan impor tersebut dijual secara online, sehingga dapat beredar luas tanpa pengawasan.

“Rata-rata mainan impor yang tidak memenuhi SNI didatangkan dari Tiongkok dan pengawasan dari pemerintah masih tergolong longgar,” katanya.

Oleh karena itu, Ia berharap pemerintah untuk terus memperbaiki peraturan SNI agar bisa mengurangi peredaran importir abal-abal.

“Pengawasan produk impor oleh pemegang kebijakan juga harus ketat dan intensif dilakukan di daerah. Bukan hanya di kota besar seperti Jakarta, sehingga bisa menguntungkan semua pihak,” katanya.

Secara umum, kata dia, sepanjang tahun 2018, kategori mainan yang berkontribusi besar terhadap penjualan mainan adalah tema edukasi yang bertujuan mengembangkan motorik anak.

“Contohnya produk rocking horse dan ride on. Kontribusinya mencapai 40 persen. Nah, di momen akhir tahun ini, kami prediksi permintaan mainan dapat terkerek sekitar 5 persen dibanding bulan biasanya. Adanya momen Natal dan tahun baru akan banyak permintaan mainan sebagai kado,” ujarnya. (*)

Sumber: Antara Jatim