SHARE

primaradio.co.id – Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia bakal turun lagi hingga kisaran 20 persen pada tahun 2016 ini. Hal ini menyusul penurunan kebutuhan di sektor tambang.

Menurut Chief Executive Officer PT Pro Energi Vica Krisdianatha, mengatakan bahwa saat ini konsumsi minyak di Indonesia mencapai kisaran 1,5 juta barel per bulan. Dari jumlah itu, 60 persen merupakan minyak yang bersubsidi, dan 40 persen sisanya adalah nonsubsisi. Karena minyak nonsubsidi adalah kebutuhan pada sektor tambang maka akan terjadi pula penurunan dengan nilai yang sama, yakni sekitar 20 persen. Namun, masih bisa tertolong oleh kebutuhan di sektor industry. Khususnya industry manufaktur, konstruksi, maritim, transportasi dan sejumlah industry lain. Terutama industry di pulau Jawa yang terus mengalami pertumbuhan.

Vica juga menambahkan, tantangan lain yang bakal dihadapi perusahaan penyuplai minyak sepanjang tahun 2016 adalah belum stabilnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Kendati harga minyak dunia turun, tapi dolar AS menguat. Ini membuat harga minyak Indonesia belum juga turun.

Sekedar diketahui, dari kebutuhan minyak 1,5 juta barel per bulan, produksi minyak yang dihasilkan Indonesia baru sekitar 800.000 barel per bulan. Artinya, masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi dengan cara mengimpor. Karena itulah, nilai tukar dolar AS masih sangat berpengaruh.