SHARE

primaradio.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) akan menerapkan sistem deteksi pernah menunaikan Ibadah Haji di tahun ini. Sistem khusus ini merupakan sistem informasi dan komputerisasi haji terpadu (Siskohat) untuk memastikan identitas setiap calon jemaah haji.

Menurut Kepala Bagian Siskohat Kemenag, Hasan Afandi mengatakan bahwa penerapan sistem deteksi pernah berhaji ini merupakan amanat Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler. Saat mendaftar, setiap calon jemaah haji akan diambil data sidik jari dan foto yang akan disimpan di database Siskohat. Dengan diterapkannya sistem deteksi dini yang menggunakan algoritma similaritas, bagi calon jemaah haji yang sudah menunaikan ibadah haji kurang dari 10 tahun dipastikan tak dapat melakukan pendafaran haji lagi.

Sementara kuota jemaah haji untuk seluruh negara dikurangi 20 persen oleh pemerintah Arab Saudi, menyusul adanya renovasi Masjidil Haram sejak 2013 lalu. Imbasnya, antrian jemaah haji terus memanjang.

Untuk itu, Hasan juga menambahkan sebagai solusi Kemenag menerbitkan PMA Nomor 29 Tahun 2015 tentang Perubahan atas PMA Nomor 14 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Reguler. Dimana isinya adalah syarat mendaftar haji adalah WNI minimal berusia 12 tahun. Untuk jemaah haji yang pernah menunaikan ibadah haji dapat mendaftar lagi setelah 10 tahun, sejak ibadah haji terakhir yang dilakukan.

Pada musim haji 2016 ini, sebanyak 152.054 jemaah yang berangkat ke tanah suci belum pernah berhaji. Jumlah itu setara 98,45 persen dari total jamaah yang berangkat.(zum/nji)