SHARE

primaradio.co.id – “Biarlah aku yang jadi ‘matamu’. Aku akan ceritakan apa yang ada di luar sana agar engkau bisa ikut menikmatinya.”

Seorang pasien baru dipindahkan ke sebuah ruangan yang sudah ada satu penghuninya. Pasien itu hanya bisa berbaring tanpa mampu beranjak. Sekujur tubuhnya lumpuh. Meskipun begitu, pancaindranya masih bisa berfungsi dengan baik, khususnya telinganya. Matanya tertutup perban akibat kecelakaan yang baru menimpanya. Dia membutuhkan proses medis yang panjang sebelum bisa bangkit berdiri.

Di ranjang sebelah, ada seorang gadis lain yang dirawat. Posisinya tepat di samping jendela, sehingga bisa menikmati sinar matahari yang menerobos masuk setiap pagi. Meskipun sama-sama terbaring, tampaknya sakit gadis ini tidak begitu parah. Dia masih bisa duduk di atas ranjang dengan bantal terganjal di punggungnya.

Gadis yang terbaring di dekat jendela itu senang karena selama beberapa saat dia sendirian di kamar yang cukup besar itu. Kesepian membuat dia seperti mendapat durian runtuh saat ada penghuni lain masuk ke kamar itu. Hari-harinya berubah. Dia jadi lebih ceria. Setiap pagi, dia meminta perawat segera membuka jendela di sebelah ranjangnya agar dia bisa menikmati mentari fajar.

Sejak punya ‘sahabat’ baru, rutinitasnya berubah. Setiap kali jendela di samping kamarnya dibuka, dia meminta didudukkan di ranjangnya. Wajahnya mengarah ke jendela. Lalu, tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang ada di balik jendela rumah sakit.

“Selamat pagi, Sahabat,” ujarnya, “saya doakan engkau segera sembuh agar bisa menikmati pemandangan di luar.” Begitu ujarnya menyapa teman sekamarnya.

“Karena engkau belum bisa bangun dan melihat, biarlah aku yang jadi ‘matamu’. Aku akan ceritakan apa yang ada di luar sana agar engkau bisa ikut menikmatinya.”

Mula-mula pasien baru itu merasa aneh dengan penghuni lama yang begitu agresif. Enerjik. Full power! Namun, dalam hati, dia senang juga, karena dia pun merasa kesepian dan tak berdaya di ranjangnya. Suasana kamar jadi berubah ceria.

“Hai, Sayang, selamat pagi. Apa kabar?” suatu pagi dia mendengar sapaan dari gadis sebelah. Seperti biasa, tanpa diminta, pasien baik hati itu mulai menceritakan keadaan di luar kamar.

“Seperti yang saya ceritakan kemarin, hari ini mentari bersinar begitu cerah. Di ujung sebelah kiri ada satpam yang sedang mengobrol dengan pengunjung setia. Seorang ibu yang anaknya dirawat di rumah sakit yang sama dengan kita. Ibu itu begitu ramah sehingga setiap hari membawakan satpam itu makanan. Mereka begitu akrab, seperti ibu dan anak.”

“Danau yang ada di depan rumah sakit kita tampak lebih meriah pagi ini. Ada sepasang angsa berpacaran. Aku jadi ingin segera keluar. Ayo … cepat pulih agar engkau pun bisa menikmati pemandangan yang memukau ini!”

Begitu rutinitas setiap hari yang jadi tidak rutin. Gadis di sebelah benar-benar seorang storyteller jagoan. Apa saja bisa dia jadikan cerita. Tentang pedagang kaki lima di depan pagar yang tidak lagi boleh jualan di sana. Tentang sarang burung di depan pintu kamar yang makin ramai sejak telurnya menetas.

“Lihat, begitu lucunya burung-burung yang baru lahir itu. Meskipun induknya terbang ke sana kemari untuk mencari makan, mulut-mulut lapar itu tidak berhenti terbuka. Pantas induk burung langsing-langsing! Mereka olahraga tiap hari,” ujarnya disambung cekikikan.

Mau tidak mau, gadis yang baru mengalami kecelakaan pun ikut tertawa, meskipun karena itu ada sedikit rasa nyeri akibat jahitan di mulutnya.

Hari-hari di rumah sakit tidak lagi sepi. Pasien ‘baru’ itu jadi lebih bersemangat. Dia ingin segera sembuh. Semangatnya bangkit. Dokter dan suster pun terkejut melihat proses pemulihannya yang luar biasa. “Mbak begitu ceria. Saya percaya, Mbak akan cepat sembuh dan segera keluar dari rumah sakit,” ujar seorang suster suatu kali. “Perban di mata Mbak pun beberapa hari lagi sudah bisa dilepas.”

Waktu berlalu dengan cepatnya. Daun kalender berguguran, sama cepatnya. Suatu pagi, dia tidak lagi mendengar sapaan sang teman baru. Ada perasaan sepi yang menggigit. Entah mengapa, pagi itu perasaannya tidak enak. Ada keributan kecil di kamarnya. Suara panik tertahan. Suara kaki bergegas masuk dan keluar. Dia mendengar ranjang dorong yang masuk dan keluar. Apa yang terjadi? Padahal, pagi itu, perban di matanya sudah waktunya dilepas. Dia ingin segera melihat wajah sahabat yang setiap hari begitu setia menceritakan dunia luar yang tidak bisa dia lihat sendiri.

Rasanya seabad sampai dokter dan suster masuk ke kamarnya. Dengan harap-harap cemas dia menikmati saat dengan pelan dan hati-hati perban di matanya dibuka lapis demi lapis. Akhirnya, selembar kain kasa lembut yang selama ini menutupi matanya diangkat.

Sinar terang yang menyeruak tiba-tiba membuat dia harus menyipitkan mata. Secara perlahan pula, dia mulai melihat ruangan. Awalnya remang-remang, samar-samar, hingga akhirnya jelas. Begitu bisa melihat, dia langsung menoleh ke ranjang sebelah.

Kosong.

“Lho, Sus, temanku mana?” tenggorokannya tercekat saat mengucapkan kalimat itu.
Sambil memegang tangannya lembut, suster itu berkata, “Sahabat terbaikmu sudah berada di rumah Bapa di surga pagi ini. Tadi pagi, saat saya bangunkan, dia tidak bangun untuk selamanya.”

Tiba-tiba air mata mengalir begitu deras dari mata gadis yang baru bisa melihat dunia setelah sekian lama hanya melihat kegelapan.

“Apa yang terjadi?”
“Dia menderita sakit yang tak bisa disembuhkan yang membuat matanya buta.”
Gadis korban kecelakaan itu tidak lagi sanggup mendengar suara suster yang terus berbicara. Dunia terasa gelap baginya. Jadi? Selama ini sahabatnya itu pura-pura bisa melihat, hanya untuk menyenangkan hatinya?

Kasih memang menutupi segala sesuatu. Termasuk kelemahan diri sendiri, agar orang lain bisa mendapatkan kekuatan.

Inilah satu rahasia terbesar agar hidup kita bahagia:
menjadi berkat bagi orang lain!