SHARE

primaradio.co.id – Imlek atau perayaan tahun baru bagi masyarakat Tionghoa adalah sebuah tradisi yang dirayakan setiap tahun bersama keluarga. Tahun baru Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi, dimana menjelang Imlek, rumah-rumah keluarga Tionghoa akan dibersihkan dan dihias dengan berbagai aksesoris berwarna merah serta berbagai hidangan manis seperti permen, kue keranjang dan jeruk yang menyimbolkan kebaikan, kemakmuran, kesehatan dan kebahagiaan. Kerabat  yang berjauhan juga akan pulang ke rumah saudara yang lebih tua menghabiskan tahun baru bersama.

Di Surabaya, perayaan Imlek juga dirayakan dengan meriah. Terlepas dari tradisi di keluarga-keluarga Tionghoa tersebut, tahun ini Pakuwon Golf & Family Club managed by Sheraton Hotels & Resort kembali menghadirkan pesta Imlek paling spektakuler di Jawa Timur  bertajuk The Beauty of China. Ini adalah perayaan Imlek ke-14 yang diadakan di Pakuwon Imperial Ballroom pada Kamis, 15 Februari 2018. Para undangan dapat melewatkan perayaan tahun baru Imlek dengan jamuan makan malam istimewa.

The Beauty of China mempersembahkan berbagai macam atraksi mulai dari barongsai, penyanyi Mandarin hingga tarian kolosal yang dimainkan oleh penari-penari profesional. Didukung tata panggung yang spektakuler, animasi LED raksasa, lighting dan dekorasi. Pertunjukan tari juga mengkombinaskan tari tradisonal dan kolosal Tiongkok serta Aerial Ring Sing Dance.

General Manager Pakuwon Golf & Family Club, Alamsyah Jo menuturkan dalam pagelaran kali ini menceritakan empat tema yaitu The Great Wall of China yang menggambarkan kemegahan dan kebesaran negeri Tiongkok; Romance in Spring bercerita tentang romansa sepasang kekasih; Old Beijing yang terinspirasi dari jalanan di Beijing di masa lampau serta semangat anak-anak muda; The Lady of Camellias yang menjadi sajian penutup dan dibawakan dengan meriah sekaligus merupakan awal permulaan musim semi.

Selain itu, The Beauty of China menurut Alamsyah menggambarkan keberagaman yang ada di Indonesia yang digabungkan lewat tarian tradisonal China dan Jawa khususnya.

“Sebenarnya pagelaran ini kita ingin mempaketkan sebuah tari kolosal yang mengkombinasikan antara tari Indonesia Jawa khususnya dengan hip hop, balet, yang dipaketkan sebagai tarian tradisonal China. Ini yang ingin disampaikan bahwa Indonesia bisa dipaketkan dengan budaya lain,”ujar Alamsyah. (bee)