SHARE

primaradio.co.id – Komunitas GUSDURian mengadakan kegiatan Temu Nasional (Tunas) Penggerak GUSDURian di Asrama Haji Yogyakarta pada Sabtu (11/8) hingga Minggu (12/8).

Tunas 2018 diikuti berbagai kegiatan, seperti panggung Budaya. Dimana kegiatan ini melibatkan anak-anak muda dari berbagai komunitas, dengan latar belakang yang beragam (suku, agama, ras, dan budaya).

Panggung budaya dikemas dengan berbagai pertunjukan. Mulai dari kesenian dengan membawa pesan kesatuan dan perdamaian dari anak muda untuk Indonesia. Ada juga Orasi Kebangsaan oleh Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid.

Selain itu bagi seluruh jaringan GUSDURian juga ada Focus Group Discussion yang membahas strategi-startegi yang akan dilakukan dalam kerja-kerja jaringan kaderisasi dan pengembangan media sebagai salah satu alat untuk menggerakkan massa dalam menyebarkan gagasan Gus Dur.

Yang menarik juga dalam Tunas 2018 ini Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian Alissa Wahid menyampaikan workshop kepemimpinan. Menurut Alissa, pemimpin yang baik harus sadar 3 hal:

1. Suara penghakiman. Sebagai pemimpin harus peka dan tidak terburu-buru menghakimi orang lain. Jadi seorang pemimpin harus membuka wawasan berpikirnya.

2. Voice of Cynicism. Pemimpin yang baik harus membuka hati terhadap apapun yangvada di sekitarnya.

3. Voice of Fear vs Open Mind. Pemimpin harus punya kemauan untuk bekerja sama.

Ketiga suara ini tambah Alissa sangat kuat, tidak heran benturannya juga memiliki skala yang sama. Karena itu kuncinya tambah Alissa, sebagai seorang pemimpin harus peka melihat hal tersebut.

Seperti diketahui Jaringan GUSDURian pada tahun 2018, telah berada kurang lebih di 100 titik di Indonesia
dan beberapa negara lainnya. Sebuah tantangan dan potensi menjadi salah satu jaringan kultural yang hadir di tengah gerakan kebangsaan sangat penting untuk disikapi bersama.

Sehingga perlu adanya ruang yang mempertemukan para penggerak GUSDURian dari berbagai daerah untuk memperkuat jaringan yang telah berkembang.

Dalam konteks Indonesia, tantangan semakin kompleks dengan menguatnya isu radikalisme yang telah menjamur diberbagai level masyarakat, isu korupsi, persekusi hingga diskriminasi dan hate speech disosial media terutama menjelang tahun politik 2019.

Oleh karena itu perlu untuk kembali menyelaraskan pemikiran dan ide-ide seluruh penggerak GUSDURian untuk memperbesar baik jaringan, maupun internal masing-masing komunitas, termasuk tentang mekanisme kaderisasi dan memaksimalkan pemanfaatan media sosial sebagai alat gerakan sosial dalam TEMU NASIONAL (TUNAS) Penggerak GUSDURian 2018.

Harapannya, melalu TUNAS 2018 akan menjadi wadah untuk menyatukan visi dan misi seluruh elemen Jaringan GUSDURian dan masyarakat sipil dalam rangka mencapai cita dan harapan untuk Indonesia. (bee)