SHARE

primaradio.co.id – Ide terbaik adalah ide yang diketik!

“Bagaimana caranya Bapak bisa menulis seproduktif itu tanpa kehabisan ide?”

Begitu frequently ask question yang ditanyakan ke saya setiap kali saya memimpin lokakarya kepenulisan. Sebenarnya, saya pun kadang mengalami ‘penat ide’ istilah yang saya pakai untuk kehabisan bahan menulis. Fisik saja bisa penat apalagi otak.

Dari perjalanan panjang kepenulisan saya sejak duduk di bangku sekolah, saya merenungkan paling tidak lewat lima kiat inilah saya bisa terus-menerus menulis tanpa takut ‘habis ide’.
Inilah 5 kiat agar bisa tetap giat menulis tanpa mengalami penat ide. Saya pakai singkatan WRITE:

1. Worship

Kata ‘worship’ ini lebih saya artikan sebagai ibadah. Saat kita menyembah Junjungan Tertinggi kita, ide tulisan bisa mengalir demikian derasnya. Saya punya keyakinan bahwa banyak penulis lain yang sadar atau tidak mengalami hal yang sama. Novel Ayat-Ayat Cinta karya fenomenal Habiburrahman El Shirazy yang sudah difilmkan ini saya percaya merupakan hasil ibadah yang intens dengan Sang Pencipta. Serial The Lord of the Rings menurut saya bisa jadi merupakan devosi J.R.R. Tolkien kepada Tuhan. Demikian juga dengan Mahabharata karya Begawan Byasa atau Vyasa dan Sam Kok. Bukankan tema yang jahat melawan yang baik adalah ide cerita yang abadi? Banyak cerpen, puisi atau tulisan saya lainnya yang lahir dari proses ini.

2. Read

Di samping Kitab Suci yang merupakan sumber ilham utama yang tak pernah kering, bacaan apa saja bisa memantik senar-senar kreatif di sel-sel abu-abu kita untuk bergetar. Banyak karya saya yang lahir karena membaca karya orang lain. Sebagai orang yang gemar membaca sejak kecil, bacaan sudah seperti oksigen bagi saya entah itu berupa grafiti di tembok kumuh di Brooklyn, iklan MRT atau MTR, papan petunjuk di gunung, sampai ucapan ‘I love you’ dari semburan ekor pesawat kecil di atas Shrine of Remembrance di Melbourne pada 14 Februari.

Entah dari mana asalnya, kata-kata bisa menjadi mantera yang saya kuat untuk menggerakkan jemari saya di atas keyboard laptop saya.

Jika tidak ada kesempatan untuk menulis pada saat itu, biasanya saya catat. Sejak handphone dilengkapi dengan fitur kamera, pekerjaan merekam tulisan ini menjadi hal yang mudah. Sebagai orang yang suka travelling, saat harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan cepat, saya manfaatkan gadget saya untu merekam apa saja yang nantinya bisa jadi bahan tulisan. Kadang saya minta anak bungsu saya yang memang suka fotografi untuk mengabadikan momen-momen khusus.

3. Involve

Sedapat mungkin libatkan diri Anda dengan berbagai aktivitas yang menunjang hobi maupun profesi Anda. Sebagai seorang yang hobi nulis, sejak kuliah saya sudah aktif di himpunan penulis muda Indonesia, himpunan penulis cerpen dan puisi, aliansi jurnalis dan sebagainya. Di dalam perkumpulan, persatuan atau apa pun namanya inilah kita bisa saling berbagi ide.

RibutRukun bisa kita jadikan wadah sekaligus kawah Candradimuka untuk menggembleng stamina kita untuk terus menulis. Waktu terlibat dalam komunitas kepenulisan inilah kita bukan saja bisa meng-up date informasi, namun juga meng-up grade kemampuan. Usahakan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh komunikas di mana Anda terhisab.

Setiap kali ke ski resort, saya suka ‘ngumpul’ dengan para pemain ski. Meskipun bukan atlet, namun ‘persinggungan’ dengan mereka saya jadi tahu bahwa bermain ski tidak semudah main papan luncur di halaman TK. Bahkan ‘bermain’ di atas papan simulasi berbasis teknologi canggih sekalipun.

4. Think

Karena suka dengan apa pun yang ada hubungannya dengan cara kerja otak, di lemari buku saya ada cukup banyak buku dengan judul ‘Think’.

Tindakan memikirkan cara kerja otak saja bisa membuat kita menghasilkan tulisan menarik.
Dulu saya pernah berpikir bahwa jika kita memiliki otak yang besar daya pikir kita bertambah. Ternyata benar. Dibandingkan ukuran tubuh, otak manusia relatif lebih besar ketimbang makhluk lain yang ukuran tubuhnya lebih besar. Misalnya saja, gajah. Kita bisa memikirkan apa saja. Dari pertanyaan sederhana, “Mengapa begini, mengapa begitu?” kita bisa menghasilkan tulisan yang tak terbatas jumlahnya.

Coba kita renungkan. Pada waktu pagi, matahari tampak lebih besar daripada siang hari, namun, mengapa tidak sepanas siang hari? Semakin tinggi kita terbang ke atas, mengapa udara menjadi semakin dingin padahal kita lebih dekat matahari? Atau pertanyaan yang sedikit ‘out of the box’, jika prasyarat untuk masuk Akademi Angkatan Laut kita harus bisa berenang, mengapa masuk ke Akademi Angkatan Udara kita tidak diharuskan bisa terbang?

Apakah dengan berpikir tulisan kita jadi berat dan membuat pembaca mengernyitkan dahi? Tidak selalu! Penulis seringkali justru berpikir keras agar tulisan yang berat dan berbobot bisa tetap renyah dinikmati.

5. Examine, Exercise, Execute

Examine

Pengamatan bisa jadi sumber tulisan yang hebring. Banyak buku saya yang lahir dari proses ini. Ini salah satu contohnya. Menjelang senja, saya sedang jalan-jalan sore di Italian Plaza. Saat itu sedang musim gugur. Begitu ada bangku kosong, saya segera mencari PW (posisi wuenak he, he, he) untuk duduk.

Di depan saya tampak seorang gadis berambut pirang sedang asyik membaca buku (dari judulnya tampaknya novel). Jalanan di taman itu dipenuhi daun-daun yang rontok. Tiba-tiba selembar daun melayang dan hinggap di rambutnya. Aha moment yang indah sekali bagi saya. Alih-alih membuangnya, daun kering itu dia pakai menjadi pembatas buku. Elegan! Secuil peristiwa itulah yang memantik ide saya untuk menulis kehidupan manusia ditinjau dari empat musim kehidupan. Jadilah buku Season Sonata yang isinya sebagian adalah tugas saya saat berada di negara empat musim.

Exercise

Lumrah bisa karena biasa. Practice makes perfect. Salah satu hukum wajib bagi para penulis adalah berlatih menulis itu sendiri. Setiap kali ada peserta writing course yang bertanya apa rahasianya untuk menjadi penulis handal, saya jawab,“ Ada tiga. Latihan. Latihan. Latihan!” Jika seorang pilot baru boleh menerbangkan pesawat jumbo setelah ribuan jam terbang, demikian juga seorang penulis.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bagaimana cara menulis novel? Awali dengan cerpen. Lanjutkan dengan cerbung. Kita sering menemukan novel yang asalnya dari cerbung yang dibukukan? Dulu, sebelum saya menulis cerita bersambung, saya mengawalinya dengan cerpen pendek lebih dulu. Mulai dengan cerpen singkat.
Cerpen yang benar-bener terpendek di dunia, setahu saya, ditulis oleh Ernest Hemingway. Mau baca? Ini: “Baby shoes. Never worn.”

Meskipun hanya empat kata, kalau kita renungkan, kita bisa meneteskan airmata. Apalagi kalau dibaca oleh seorang ibu yang bertahun-tahun menantikan momongan. Siapa yang tidak terobek-robek hatinya saat semua persiapan dan perlengkapan bayi sudah tersedia namun yang didambakan meninggal di dalam kandungan menjelang kelahiran? Saya tidak kuasa menahan airmata saat memimpin ibadah tutup peti bayi yang meninggal di dalam kandungan dari pasutri yang pernikahannya saya berkati.

Meskipun tidak sesingkat cerpen Hemingway, saat seseorang bertanya kondisi saya yang sedang sakit, saya tulis quote ini: “Saat terbaring gering di ranjang gersang, imajinasi saya terbang menantang elang!”

Execute

Kiat atau langkah yang saya bagikan di atas tidak akan terwujud dalam tulisan tanpa yang satu ini: Execute. Kita harus segera mengeksekusinya. Tanpa eksekusi semua ilham akan tenggelam. Sebelum memiliki PC dan laptop bertahun-tahun yang lalu, saya katakan, “Ide terbaik adalah ide yang diketik!” Titik.

No more question!