Pemberkatan Pasangan Sesama Jenis (LGBT) oleh Paus yang Mengejutkan

Paus Fransiskus akhirnya memberikan izin untuk melakukan pemberkatan pasangan sesama jenis. Hal ini memang menjadi angin segar bagi semua warga LGBT, walaupun masih ada syarat dan ketentuan.

Baca juga: 5 Contoh Norma Agama dalam Kehidupan Bermasyarakat

Kondisi ini memang belum sepenuhnya membuat pasangan tersebut mendapatkan pengakuan sekaligus persetujuan. Hanya saja, sudah menjadi langkah besar dan kemajuan yang berarti.

Pemberkatan Pasangan Sesama Jenis Bukan Pernikahan

Pemberkatan Pasangan Sesama Jenis Bukan Pernikahan
Pemberkatan Pasangan Sesama Jenis Bukan Pernikahan

Dalam agama Katolik pemberkatan semacam ini dapat diartikan sebagai tanda memperbolehkan keduanya menjalin hubungan. Cukup sampai di situ saja, jadi pengakuannya sesama umat manusia.

Untuk memudahkan kalian mengartikannya, mari kita menggunakan sebuah ilustrasi. Ketika A dan B meminta pemberkatan pasangan sesama jenis, hal itu akan dilakukan oleh seorang pastor, agar semua orang tahu.

Jadi A dan B mempunyai sebuah hubungan serius, ibarat kata A sudah melamar B dan menerimanya. Sudah cukup hanya sampai sebatas itu, tidak lebih sampai ke jenjang pernikahan.

Karena kondisi keduanya masuk dalam pernikahan tidak biasa. Artinya dalam ajaran agama memang melarang hubungan semacam ini, maka dari itu cukup sebatas tahu serta pengakuan saja.

Vatikan sendiri sampai saat ini masih mengakui bahwa, Tuhan menciptakan manusia itu berpasangan. Jadi dalam sebuah ikatan suci dihadapan semua orang dan Tuhan, harus ada lelaki serta perempuan.

Beberapa orang kemudian memunculkan pertanyaan, apakah hal yang dilakukan Vatikan ini menunjukkan persetujuan akan pasangan LGBT. Menurut beberapa sumber jawabannya adalah tidak, karena Paus sendiri punya alasan sebagai berikut:

Kelonggaran dan Hak Manusia

Kelonggaran dan Hak Manusia
Kelonggaran dan Hak Manusia

Pemberkatan pasangan sesama jenis ini bukanlah merupakan persetujuan dari pihak gereja akan hubungan keduanya, melainkan pelonggaran. Kondisi tersebut menjadi bahan pertimbangan berdasarkan kerendahan hati sekaligus hak manusia.

Paus meyakini, setiap orang punya hak untuk mendapatkan pemberkatan secara sederhana. Terlebih dengan melakukannya, setiap umat akan lebih dekat dengan Tuhan hingga akhirnya menunjukkan jalan yang benar.

Hal ini menjadi pertimbangan berat mengapa keputusan pemberkatan pasangan sesama jenis boleh dilakukan. Harapannya adalah setelah ini keduanya akan mendapatkan petunjuk dari Tuhan hingga akhirnya berpisah.

Kemudian kembali ke jalan yang benar, karena hanya dengan hidayah seperti ini LGBT bisa perlahan menghilang. Bila dengan kekerasan, tidak akan pernah selesai justru jumlahnya bertambah.

Mencoba Mengubah Sudut Pandang

Mencoba Mengubah Sudut Pandang
Mencoba Mengubah Sudut Pandang

Pemberkatan pasangan sesama jenis bukan berjalan mulus begitu saja, dalam perjalanannya memang mendapatkan tantangan. Ada beberapa pandangan berpendapat keputusan ini salah karena memberikan persetujuan bagi LGBT.

Sayangnya, Paus Fransiskus berpendapat lain dan mencoba mengubah sudut pandangnya menjadi lebih baik. Dengan memberikan restu dan membantu orang yang terkucilkan, bukan untuk mendukung agar kembali ke Tuhan.

Ketika, orang terkucilkan ini membutuhkan sesuatu dan tidak terpenuhi. Kemungkinan sebagian besar akan memberontak, hal ini membuatnya akan jauh dari Tuhan, sehingga menjadi manusia kurang baik.

Ketika memakai sudut pandang ini, maka tidak heran bila pemberkatan pasangan sesama jenis adalah benar. Ketika semua orang mulai menerima, kemudian mencoba perlahan memberi tahu hasilnya akan berbeda.

Kemungkinan untuk jauh lebih mengerti dengan keadaan sangat tinggi. Kalau sudah seperti ini ketika keduanya ke gereja dan ada firman Tuhan dibacakan, akan lebih menyentuh hingga akhirnya menerima.

Perbedaan Pendapat Terkait Dosa

Perbedaan Pendapat Terkait Dosa
Perbedaan Pendapat Terkait Dosa

Pemberkatan pasangan sesama jenis menjadi boleh oleh Paus Fransiskus, karena memang hal itu tidak melanggar kitab suci. Menyukai sesama lelaki atau perempuan adalah hal wajar, semua merasakan dan melakukannya.

Sebagai contoh, orang tua jatuh cinta kepada anaknya adalah tindakan seharusnya. Kasih sayangnya sangat tinggi, bahkan hubungannya bisa sangat dekat tetapi, hal itu bukanlah dosa besar.

Hanya saja, tindakan seksualitasnya merupakan dosa yang tidak diperkenankan. Tuhan memang tidak memberkati seseorang berbuat sebuah dosa, dari pandangan inilah mengapa pemberkatan menjadi boleh dilakukan paus.

Hal tersebut juga menjawab alasan mengapa Vatikan melarang pernikahan tersebut terjadi. Karena setelah keduanya resmi menjadi satu kesatuan, maka apa saja jadi boleh atau halal, termasuk urusan sex.

Maka dari itu, kalau hanya sebatas meminta berkat saja maka Paus mengizinkan karena memang ketertarikan tersebut memang tidak dosa. Tetapi, kalau restu pernikahan terjadi, keduanya pasti akan melakukan hubungan badan.

Tindakan tersebut tidak boleh terjadi karena bagian dari dosa besar. Maka dari itu, untuk kasus pernikahan Vatikan tetap melarangnya, sakramen pernikahan hanya ada lelaki dan perempuan.

Oleh karena itu, bila melihat dari cara pandang ini wajar saja, kalau Paus Fransiskus yang sekarang lebih ramah dengan kaum LGBT. Semua tidak salah bahkan melakukan dosa juga tidak.

Harapannya ke depan Vatikan bisa lebih dekat lagi dengan orang semacam ini. Jangan menutup diri agar masuk ke dalam jiwanya itu sangat mudah, dibandingkan terus melawan pada akhirnya sia-sia.

Follow Primaradio.co.id untuk mendapatkan informasi teruptodate Disini