SHARE
Pengunjung memberi makan Jerapah (Giraffa Camelopardalis) asal Afrika bernama Moridtz yang berulang tahun keempat di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Jawa Timur, Sabtu (18/7). Perayaan Hut jerapah tersebut dalam rangka memeriahkan liburan Lebaran di KBS. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/asf/ama/15.

primaradio.co.id – Dalam beberapa tahun terakhir, Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengalami masalah pelik, yakni terkait overpopulasi dan satwa singel atau tanpa pasangan.

Hingga saat ini, dua masalah tersebut belum mendapat solusi dari pengelola KBS. Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) seperti tidak bisa berbuat apa pun dalam mengatasi masalah ini.

Direktur Utama PDTS KBS Khoirul Anwar menjelaskan, pihaknya kesulitan menangani masalah overpopulasi dengan cara pertukaran satwa karena belum mendapat rekomendasi dari pemerintah pusat.

“Kalau Komodo untuk pertukaran satwa harus ada izin dari presiden. Lah ini yang belum keluar, lalu bagaimana saya bisa mengeluarkan satwa ini dari KBS,” kata Khoirul saat hearing bersama Komisi B di DPRD Kota Surabaya, Senin (8/1/2018).

Begitu juga untuk mengatasi satwa single seperti jerapah, capucin, dan juga zebra. Anwar khawatir, bila satwa tersebut tidak segera dikawinkan, maka akan lewat masa subur dan reproduksinya.

“Kami juga sudah ajukan untuk breeding loan. Tapi juga masih ada kendala,” kata Khoirul.

Oleh sebab itu yang kini bisa ia lakukan baru sebatas penataan di dalam KBS.

Untuk masalah overpopulasi, pihaknya mencoba memberi solusi dengan melakukan perluasan kandang.

Begitu juga pengayaan sejumlah kandang satwa juga dilakukan penataan dan enrichment atau pengayaan. Harimau, beruang, dan sejumlah satwa lain.

“Selain itu, kami juga tengah mengurus akreditasi review. Kalau akreditasi kita sudah bisa dikantongi, maka breeding loan, hibah sudah bisa, kerjasama dengan lembaga konservasi lain juga bisa,” kata Khoirul. (*)

sumber : Surya