SHARE

primaradio.co.id – Pertumbuhan ekonomi hingga triwulan kedua tahun ini ditengarai belum bagus. Salah satu indikatornya terdapat penurunan daya beli masyarakat pada sektor otomotif yang selama ini memberi kontribusi besar pada pendapatan asli daerah Jatim.

Dari Data Dinas Pendapatan (Dispenda) Pemprov Jatim menyebutkan, sepanjang Januari – April 2016, penjualan kendaraan bermotor di Jatim turun hingga 18.145 unit dibandingkan periode yang sama Januari-April 2015. Artinya, setiap bulan rata-rata ada penurunan pejualan sebanyak 4.536 unit. Pada Januari – April 2015 lalu, total penjualan kendaraan bermotor di 38 kabupaten/kota di Jatim mencapai 377.747 unit. Namun terjadi penurunan penjualan pada Januari-April 2016 hanya terjual 359.602 unit. Dari penurunan 18.145 unit, penjualan sepeda motor atau kendaraan roda dua turun sebanyak 15.418 unit, jenis truk dan pikap turun 2.217 unit, station wagon turun 608 unit, sedan turun 3 unit, dan jenis alat berat turun 1 unit.

Menurut Kepala Dinas Pendapatan Pemprov Jatim Bobby Soemiarso mengatakan bahwa turunnya penjualan kendaraan bermotor sepanjang Januari – April tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu menunjukkan, bahwa daya belum masyarakat masih rendah. Selain kondisi ekonomi, turunnya daya beli masyarakat juga tak lepas dari komponen pembiayaan kendaraan baru. Yakni, masih tingginya bunga kredit kendaraan bermotor yang mencapai di atas 2 digit. Sehingga, daripada uang dipakai untuk membayar cicilan. Lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bobby juga menambahkan, pengurusan surat registrasi uji tipe (SRUT) kendaraan bermotor diambil alih pusat. Dulu perizinan dikeluarkan Dinas Perhubungan dan LLAJ Jatim, tapi kini harus mengurus ke Kementrian Perhubungan di Jakarta. Saat ditangani provinsi, pengurusan SRUT maksimal hanya seminggu. Tapi sejak ditangani pusat, pengurusannya butuh waktu hingga dua bulan. (Zum/Nji)