SHARE

primaradio.co.id – Parade Juang 2017 merupakan agenda rutin tahunan yang disuguhkan untuk warga dari dalam maupun luar kota Surabaya. Ada yang berbeda dari Parade Juang yang digelar Pemerintah Kota Surabaya tahun ini. Kegiatan yang akan digelar pada hari Minggu, 5 November 2017 mendatang akan memperbanyak aksi teatrikal dan nuansa kebangsaan yang lebih semarak.

Direktur Pelaksana Parade Surabaya Juang, Herry Lentho mengatakan, parade kali ini akan dikemas dalam bentuk sosiodrama dimana terdapat cerita atau pesan yang disusun berurutan dari setiap adegan teatrikal mulai di garis start sampai garis finish. Selain memperbanyak aksi teatrikal, dalam kegiatan kali ini pemerintah Belanda juga akan mengagendakan lawatan di Taman Makam Pahlawan Mayjend Sungkono pada hari Jum’at, 10 November 2017.

“Yang paling membedakan pada tahun ini adalah, kalau dulu hanya semacam parade berjalan begitu saja tapi konsepnya sekarang itu seperti sosiodrama. Jadi urutannya itu ada sebuah cerita dari awal sampai di terakhirnya. Jadi di urutan pertama nanti akan bergabung sekitar 350 pencinta sejarah se-Indonesia. Karena memang Parade Surabaya Juang itu istilahnya adalah hari rayanya para pencinta sejarah karena mereka berkumpul mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, hingga Pulau Jawa ini kumpulnya di event Surabaya Juang,” kata Herry kepada reporter Primaradio.

Lebih detail, Herry juga menjelaskan konsep dari agenda ini.

“Konsep-konsepnya, ketika di start akan menampilkan sebuah teatrikal Sumpah Pregolan, kemudian di Siola akan ada teatrikal perang TKR yang dikenal dengan tokoh Madun, lanjut di Hotel Majapahit ada pembacaan puisi “Surabaya” karya Mustofa Bisri secara bergantian dari Walikota Surabaya, Kapolrestabes, Komandan Korem dan Ketua DPRD, kemudian di Gedung Grahadi ada aksi perang 10 November, dan dilanjutkan dengan atraksi di Monumen Polisi Istimewa, Santa Maria, dan yang terakhir di Taman Bungkul,” tambahnya.

Herry juga menjelaskan tentang acara tersebut yang bahkan membuat Pemerintah Belanda ikut ambil bagian. Rencananya Pemerintah Belanda akan datang langsung ke Surabaya untuk melakukan lawatan khusus.

“Ada hal yang paling penting tentang Surabaya yang di respon Pemerintah Belanda, salah satunya adalah kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Pencinta Sejarah di Surabaya dalam rangka memperingati ‘Selasa Kelabu’, dimana dalam aksi itu ada seorang perempuan berjilbab melakukan ziarah di makam bernisan salib di kembang kuning. Hal ini ternyata dilihat dan direspon baik oleh Kepala Taman Makam Pahlawan Belanda. Akhirnya pada tanggal 10 November nanti, mereka atas nama Pemerintah Belanda akan membuat lawatan khusus, istilahnya nyekar di Taman Makam Pahlawan di Surabaya, khususnya pahlawan yang tidak dikenal. Kemarin sudah survei, tempatnya di Taman Makam Pahlawan Mayjend Sungkono,” tandasnya.

Kegiatan parade kali ini akan melibatkan ratusan pengisi acara yang terdiri dari komunitas seni, Pegawai Negeri Sipil yang ada di lingkungan Pemkot Surabaya, mahasiswa, pramuka, dan seluruh lapisan masyarakat yang ingin berpartisipasi.

Herry juga mengatakan, tanggal 9 dan 10 November masih ada rangkaian ‘ritual’ untuk memperingati Hari Pahlawan dengan berpakaian pejuang bagi para pegawai lingkungan kota Surabaya dan siswa.

Rangkaian acara yang digelar oleh Pemerintah Kota Surabaya ini bertujuan untuk menggelorakan dan men-transformasikan nilai Hari Pahlawan agar masyarakat dan generasi muda dapat selalu mengingat peristiwa Hari Pahlawan itu sendiri. (mge)