SHARE

primaradio.co.id – Setiap kita ingin sukses. Namun, tidak setiap kita mau membayar harga kesuksesan. Dari pengalaman dan perjumpaan dengan banyak orang sukses, saya mendapati sukses sejati syaratnya satu saja.
Kedua buku saya Sukses Sejati dan Sukses Seutuhnya sukses di pasaran. Setiap kita ingin sukses. Namun, tidak setiap kita mau membayar harga kesuksesan.

Saat makan malam bersama seorang konglomerat Indonesia, dia berkata, “Pak Xavier, banyak orang melihat saya sukses, tetapi tidak tahu bahwa saya pernah mengalami kebangkrutan yang sangat parah.”

Dari pencarian di Google dan pernah dengar atau baca sendiri, saya mendapatkan data menarik bahwa setiap bayi rata-rata pernah jatuh bangun sebanyak 240 kali baru bisa berjalan. Benarkah? Saya tidak tahu, karena waktu dulu jatuh saya tidak pernah menghitungnya, hehehe … Kalau jatuh cinta? Rahasia! wkwkwk

Setiap bulan selama bertahun-tahun, saya menulis biografi singkat orang-orang sukses di renungan Profesional. Dari rubrik ‘Success Story’ yang saya tulis tiap bulan dan dari perjumpaan dengan banyak orang sukses, saya mendapati

sukses sejati syaratnya satu saja:

KEPERCAYAAN.

Ada 3 hal yang bisa kita kembangkan untuk memperoleh kepercayaan, yaitu I-N-I:

1. Iman

Iman yang saya maksudkan di sini bukan hanya iman kita kepada Tuhan, karena yang ini harus dan jadi nomor satu rahasia kesuksesan kita. Namun, iman di sini juga saya artikan bahwa kita punya iman untuk sukses.

Sang Pemilik Kehidupan dan Kesuksesan berkata, “Karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

Artinya, kita mempunyai mindset sukses sebelum sukses yang sesungguhnya tiba.

Sederhananya begini. Kita sudah mempersiapkan garasi sebelum mempunyai mobil. Kita sudah mempersiapkan nama dan perlengkapan bayi sebelum bayi kita lahir. Artinya, kita percaya, anak kita pasti lahir.

Baca Juga: Inilah Kisah Perjuangan Hidup Sahabat Saya: Seorang Anak Pemulung yang Berhasil Menyelesaikan Studi D3

2. Nama Baik

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” – Salomo

Tidak ada raja yang mempunyai hikmat dan kekayaan melebihi Salomo. Jadi, dia sangat credible untuk mengatakan hal itu. Saya setuju. Sudut pandang inilah yang saya pakai untuk mengatakan seseorang sukses atau tidak.

Jadi, kesuksesan bukan dinilai dari kekayaan materi, tetapi jauh lebih holistik.
Saya mendapatkan kisah inspiratif dari WhatsApp group yang bisa menjelaskan hal ini dengan sangat baiknya:

Pada detik-detik kematiannya, Tom Smith memanggil anak-anaknya. Dia menasihati mereka untuk mengikuti jejak hidupnya sehingga mereka dapat memiliki ketenangan jiwa dalam semua hal yang mereka lakukan. Putrinya, Sara, mengatakan, “Ayah, saya kecewa Anda meninggalkan kami tanpa uang sepeser pun di bank. Para ayah lain – yang Ayah katakan sebagai koruptor dan pencuri dana publik – bisa mewariskan rumah dan properti untuk anak-anak mereka; kita bahkan tinggal dalam apartemen sewaan. Maaf, saya tidak bisa mengikuti jejak hidup Anda. Pergilah Ayah, biarkan kami mencari jalan hidup sendiri.”

Beberapa saat kemudian, ayah mereka menutup mata untuk selama lamanya. Tiga tahun kemudian, Sara pergi untuk wawancara pekerjaan di sebuah perusahaan multinasional. Saat wawancara ketua panitia bertanya, “Anda ini punya nama Smith yang mana?”

Sara menjawab, “Saya Sara Smith. Ayah saya, Tom Smith, sudah meninggal.”

Ketua panitia memotong, “Ya Tuhan, Anda ini putri Tom Smith?”

Dia berbalik bicara kepada anggota-anggota lain dan berkata, “Pak Smith ini adalah salah satu yang menandatangani formulir keanggotaan saya di institut administrator dan rekomendasinya tersebut membuat saya diterima bekerja di posisi saya sekarang ini. Dia melakukan semuanya dengan gratis. Saya bahkan tidak tahu alamatnya, dan dia tidak pernah tahu saya. Dia hanya melakukannya untuk keprofesionalan saya.”

Dia lalu berbalik ke Sara, “Saya tidak punya pertanyaan untuk Anda. Anda sudah mendapat pekerjaan ini. Silakan datang besok, semua surat penugasan Anda akan saya siapkan untuk Anda.”

Setelah bertahun-tahun bekerja, Sara Smith menjadi Corporate Affairs Manager perusahaan dengan dua mobil dan driver-nya. Apartemen dua lantai disediakan sebagai kantornya serta gaji besar di luar tunjangan dan biaya-biaya lainnya.

Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan, pimpinan perusahaan datang dari Amerika mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri dan mencari pengganti. Orang dengan kepribadian dan integritas yang tinggi yang dicari. Lagi-lagi, para konsultan perusahaan menominasikan Sara Smith.

Dalam sebuah wawancara, Sara Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dengan air mata berlinang, dia menjawab, “Ayah telah membuka jalan bagiku. HANYA setelah ia meninggal, aku baru sadar bahwa dia secara finansial miskin tapi ia luar biasa kaya akan integritas, disiplin, dan kejujuran.”

Dia ditanya lagi, “Mengapa Anda menangis? Kan Anda sekarang bukan lagi sebagai seorang anak yang merindukan ayahnya yang sudah pergi dalam waktu yang lama?’

Dia menjawab, “Pada saat kematiannya, aku menghina Ayah karena menjadi orang yang jujur dan berintegritas tinggi. Aku berharap dia akan memaafkanku dalam kuburnya sekarang. Aku sebenarnya tidak akan bisa sesukses ini. Ayah yang telah melakukannya untukku. Dan aku tinggal berjalan meraih suksesku.”

Akhirnya dia ditanya, “Apakah Anda akan mengikuti jejak kaki ayahmu seperti yang ia minta?”

Sara menjawab dengan sederhana, “Aku sekarang mengagumi Ayah. Aku memiliki foto besar yang tergantung di ruang tamu dan di pintu masuk rumahku. Dia layak memperoleh apa pun yang aku miliki … setelah Allah.”

Kisah Sara ini mengingatkan saya akan diri saya sendiri. Orang-orang tua di Blitar kadang justru mengenal saya karena ayah saya ketimbang diri saya sendiri. Demikian juga anak-anak saya. Mereka seringkali dikenal justru karena nama saya. “Begitu tahu saya anak Papa, sikap orang-orang terhadap saya jadi lebih baik dan hormat,” ujar anak sulung saya.

3. Integritas

Jika Anda ketik ‘arti integritas’ di Google, maka definisi teratas adalah ini:

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat.

Di samping penjelasan itu ada diagram yang membuat saya mengerti lebih jelas. Integrity adalah irisan pas di tengah antara Beliefs, Words, Actions.

Saya lebih senang menerjemahkan integritas sebagai bersatu padunya kepercayaan, perkataan dan tindakan.

Walk your talk and talk your walk! Begitu kira-kira. Orang Jawa berkata, jangan sampai kita menjadi ‘gajah diblangkoni’ yang artinya ‘iso kojah orang iso nglakoni’ yang kira-kira bermakna,

Jadi orang jangan hanya bisa mengajar, tetapi tidak bisa melakukan apa yang diajarkannya.

Bagaimana jika kita tidak punya INI [Iman, Nama Baik, Integritas]?
Kita akan menjadi orang gagal.
Saya setuju dengan apa yang dikatakan St. Paul. Menurutnya, seorang pemimpin “Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.”